Pandawa

Belum komplit rasanya ketika membahas Mahabarata dan Korawa tanpa memasukkan Pandhawa yang merupakan tokoh sentral dalam cerita ini.

Pandawa

Pandawa adalah sebuah kata dari bahasa Sansekerta (Devanagari: पाण्डव; dieja Pāṇḍava), yang secara harafiah berarti anak "Pāṇḍu" (Pandu), yaitu salah satu Raja Hastinapura dalam wiracarita Mahabharata. Dengan demikian, maka Pandawa merupakan putera mahkota kerajaan tersebut. Dalam wiracarita Mahabharata, para Pandawa adalah protagonis sedangkan antagonis adalah para Korawa, yaitu putera Dretarastra, saudara ayah mereka (Pandu). Menurut susastra Hindu (Mahabharata), setiap anggota Pandawa merupakan penjelmaan (penitisan) dari Dewa tertentu, dan setiap anggota Pandawa memiliki nama lain tertentu. Misalkan nama "Werkodara" arti harafiahnya adalah "perut serigala". Kelima Pandawa menikah dengan Dropadi yang diperebutkan dalam sebuah sayembara di Kerajaan Panchala, dan memiliki (masing-masing) seorang putera darinya.

Para Pandawa merupakan tokoh penting dalam bagian penting dalam wiracarita Mahabharata, yaitu pertempuran besar di daratan Kurukshetra antara para Pandawa dengan para Korawa serta sekutu-sekutu mereka. Kisah tersebut menjadi kisah penting dalam wiracarita Mahabharata, selain kisah Pandawa dan Korawa main dadu.

Silsilah Pandawa
Para Pandawa terdiri dari lima orang pangeran, tiga di antaranya (Yudistira, Bima, dan Arjuna) merupakan putera kandung Kunti, sedangkan yang lainnya (Nakula dan Sadewa) merupakan putera kandung Madri, namun ayah mereka sama, yaitu Pandu.

Menurut tradisi Hindu, kelima putra Pandu tersebut merupakan penitisan tidak secara langsung dari masing-masing Dewa. Hal tersebut diterangkan sebagai berikut:
Yudistira penitisan dari Dewa Yamaraja, Dewa keadilan dan kebijaksanaan;
Bima penitisan dari Dewa Bayu, penguasa angin;
Arjuna penitisan dari Dewa Indra, penguasa Surga;
Nakula dan Sadewa penitisan dari Dewa kembar Aswin, Dewa pengobatan.

disini saya akan mencoba membahas satu persatu dari pandhawa lima tersebut,..

Yudhistira

Yudhistira merupakan saudara para Pandawa yang paling tua. Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Yama dan lahir dari Kunti. Sifatnya sangat bijaksana, tidak memiliki musuh, dan hampir tak pernah berdusta seumur hidupnya. Memiliki moral yang sangat tinggi dan suka mema’afkan serta suka mengampuni musuh yang sudah menyerah. Memiliki julukan Dhramasuta (putera Dharma), Ajathasatru (yang tidak memiliki musuh), dan Bhārata (keturunan Maharaja Bharata). Ia menjadi seorang Maharaja dunia setelah perang akbar di Kurukshetra berakhir dan mengadakan upacara Aswamedha demi menyatukan kerajaan-kerajaan India Kuno agar berada di bawah pengaruhnya. Setelah pensiun, ia melakukan perjalanan suci ke gunung Himalaya bersama dengan saudara-saudaranya yang lain sebagai tujuan akhir kehidupan mereka. Setelah menempuh perjalanan panjang, ia mendapatkan surga.

Bima

Bima merupakan putera kedua Kunti dengan Pandu. Nama bhimā dalam bahasa Sansekerta memiliki arti "mengerikan". Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Bayu sehingga memiliki nama julukan Bayusutha. Bima sangat kuat, lengannya panjang, tubuhnya tinggi, dan berwajah paling sangar di antara saudara-saudaranya. Meskipun demikian, ia memiliki hati yang baik. Pandai memainkan senjata gada dan pandai memasak. Bima juga gemar makan sehingga dijuluki Werkodara. Kemahirannya dalam berperang sangat dibutuhkan oleh para Pandawa agar mereka mampu memperoleh kemenangan dalam pertempuran akbar di Kurukshetra. Ia memiliki seorang putera dari ras rakshasa bernama Gatotkaca, turut serta membantu ayahnya berperang, namun gugur. Akhirnya Bima memenangkan peperangan dan menyerahkan tahta kepada kakaknya, Yudistira. Menjelang akhir hidupnya, ia melakukan perjalanan suci bersama para Pandawa ke gunung Himalaya. Di sana ia meninggal dan mendapatkan surga.

Arjuna

Arjuna merupakan putera bungsu Kunti dengan Pandu. Namanya (dalam bahasa Sansekerta) memiliki arti "yang bersinar", "yang bercahaya". Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Indra, Sang Dewa perang. Arjuna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah dan dianggap sebagai ksatria terbaik oleh Drona. Kemahirannnya dalam ilmu peperangan menjadikannya sebagai tumpuan para Pandawa agar mampu memperoleh kemenangan saat pertempuran akbar di Kurukshetra. Arjuna memiliki banyak nama panggilan, seperti misalnya Dhananjaya (perebut kekayaan – karena ia berhasil mengumpulkan upeti saat upacara Rajasuya yang diselenggarakan Yudistira); Kirti (yang bermahkota indah – karena ia diberi mahkota indah oleh Dewa Indra saat berada di surga); Partha (putera Kunti – karena ia merupakan putera Pritha alias Kunti). Dalam pertempuran di Kurukshetra, ia berhasil memperoleh kemenangan dan Yudistira diangkat menjadi raja. Setelah Yudistira mangkat, ia melakukan perjalanan suci ke gunung Himalaya bersama para Pandawa dan melepaskan segala kehidupan duniawai. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan mencapai surga.

Nakula

Nakula merupakan salah satu putera kembar pasangan Madri dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Sadewa, yang lebih kecil darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama adiknya diasuh oleh Kunti, istri Pandu yang lain. Nakula pandai memainkan senjata pedang. Dropadi berkata bahwa Nakula merupakan pria yang paling tampan di dunia dan merupakan seorang ksatria berpedang yang tangguh. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya. Dalam masa pengasingan di hutan, Nakula dan tiga Pandawa yang lainnya sempat meninggal karena minum racun, namun ia hidup kembali atas permohonan Yudistira. Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia berperan sebagai pengasuh kuda. Menjelang akhir hidupnya, ia mengikuti pejalanan suci ke gunung Himalaya bersama kakak-kakaknya. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan arwahnya mencapai surga.

Sadewa

Sadewa merupakan salah satu putera kembar pasangan Madri dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Nakula, yang lebih besar darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama kakaknya diasuh oleh Kunti, istri Pandu yang lain. Sadewa adalah orang yang sangat rajin dan bijaksana. Sadewa juga merupakan seseorang yang ahli dalam ilmu astronomi. Yudistira pernah berkata bahwa Sadewa merupakan pria yang bijaksana, setara dengan Brihaspati, guru para Dewa. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya. Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia berperan sebagai pengembala sapi. Menjelang akhir hidupnya, ia mengikuti pejalanan suci ke gunung Himalaya bersama kakak-kakaknya. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan arwahnya mencapai surga.


hmm..mungkin cukup sekian dulu dari dunia pewayangan..
akhrnya bisa update lagi meskipun uda lama ga keurus ni blognya..:)


Kurawa

hmmm...ngelanjutin lagi dari seri Mahabarata di postingan sebelumnya.Akhirnya setelah beberapa lama engga update blog bisa update juga.

KORAWA

Korawa atau Kaurawa (Sansekerta: कौरव; kaurava) adalah kelompok antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Nama Korawa secara umum berarti "keturunan Kuru". Kuru adalah nama seorang Maharaja yang merupakan keturunan Bharata, dan menurunkan tokoh-tokoh besar dalam wiracarita Mahabharata. Korawa adalah musuh bebuyutan para Pandawa. Jumlah mereka adalah seratus dan merupakan putra prabu Dretarastra yang buta dan permaisurinya, Dewi Gandari.

Pengertian

Istilah Korawa yang digunakan dalam Mahabharata memiliki dua pengertian:
Arti luas: Korawa merujuk kepada seluruh keturunan Kuru. Dalam pengertian ini, Pandawa juga termasuk Korawa, dan kadangkala disebut demikian dalam Mahabharata, khususnya pada beberapa bagian awal.
Arti sempit: Korawa merujuk kepada garis keturunan Kuru yang lebih tua. Istilah ini hanya terbatas untuk anak-anak Dretarastra, sebab ia merupakan keturunan yang tertua dalam garis keturunan Kuru. Istilah ini tidak mencakup anak-anak Pandu, yang mendirikan garis keturunan baru, yaitu para Pandawa.

Riwayat singkat

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Gandari, istri Dretarastra, menginginkan seratus putera. Kemudian Gandari memohon kepada Byasa, seorang pertapa sakti, dan beliau mengabulkannya. Gandari menjadi hamil, namun setelah lama ia mengandung, puteranya belum juga lahir. Ia menjadi cemburu kepada Kunti yang sudah memberikan Pandu tiga orang putera. Gandari menjadi frustasi kemudian memukul-mukul kandungannya. Setelah melalui masa persalinan, yang lahir dari rahimnya hanyalah segumpal daging. Byasa kemudian memotong-motong daging tersebut menjadi seratus bagian dan memasukkannya ke dalam guci, yang kemudian ditanam ke dalam tanah selama satu tahun. Setelah satu tahun, guci tersebut dibuka kembali dan dari dalam setiap guci, munculah bayi laki-laki. Yang pertama muncul adalah Duryodana, diiringi oleh Dursasana, dan saudaranya yang lain.

Seluruh putera-putera Dretarastra tumbuh menjadi pria yang gagah-gagah. Mereka memiliki saudara bernama Pandawa, yaitu kelima putera Pandu, saudara tiri ayah mereka. Meskipun mereka bersaudara, Duryodana yang merupakan saudara tertua para Korawa, selalu merasa cemburu terhadap Pandawa, terutama Yudistira yang hendak dicalonkan menjadi raja di Hastinapura. Perselisihan pun timbul dan memuncak pada sebuah pertempuran akbar di Kurukshetra.

Setelah pertarungan ganas berlangsung selama delapan belas hari, seratus putera Dretarastra gugur, termasuk cucu-cucunya, kecuali Yuyutsu, putera Dretarastra yang lahir dari seorang dayang-dayang. Yang terakhir gugur dalam pertempuran tersebut adalah Duryodana, saudara tertua para Korawa. Sebelumnya, adiknya yang bernama Dursasana yang gugur di tangan Bima. Yuyutsu adalah satu-satunya putera Dretarastra yang selamat dari pertarungan ganas di Kurukshetra karena memihak para Pandawa dan ia melanjutkan garis keturunan ayahnya, serta membuatkan upacara bagi para leluhurnya.

untuk nama-nama korawa sendiri saya rasa terlalu banyak karena ada 100 maka tidak saya tampilan disini,namun ada 2 korawa utama dalam cerita ini yaitu Suyudana atau Duryudana dan Dursasana atau
Dussāsana.


Mahabarata


sedikit saya ingin mengulas tentang sejarah pewayangan yang ada di Indonesia,sebuah cerita menarik yang kalo diruntut asal mulanya berasal dai India.


Mahabarata(Sansekerta: महाभारत) adalah sebuah karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dari India. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.

Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik Pandhawa lima dengan saudara sepupu mereka Korawa yang konon berjumlah seratus, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah di negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayudha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.

Pengaruh dalam budaya

Selain berisi cerita kepahlawanan (wiracarita), Mahabharata juga mengandung nilai-nilai Hindu, mitologi dan berbagai petunjuk lainnya. Oleh sebab itu kisah Mahabharata ini dianggap suci, teristimewa oleh pemeluk agama Hindu. Kisah yang semula ditulis dalam bahasa Sansekerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa, terutama mengikuti perkembangan peradaban Hindu pada masa lampau di Asia, termasuk di Asia Tenggara.

Di Indonesia, salinan berbagai bagian dari Mahabharata, seperti Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa dan mungkin juga beberapa parwa yang lain, diketahui telah digubah dalam bentuk prosa bahasa Kawi (Jawa Kuno) semenjak akhir abad ke-10 Masehi. Yakni pada masa pemerintahan raja Dharmawangsa Teguh (991-1016 M) dari Kadiri. Karena sifatnya itu, bentuk prosa ini dikenal juga sebagai sastra parwa.

Yang terlebih populer dalam masa-masa kemudian adalah penggubahan cerita itu dalam bentuk kakawin, yakni puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa Kuno. Salah satu yang terkenal ialah kakawin Arjunawiwaha (Arjunawiwāha, perkawinan Arjuna) gubahan mpu Kanwa. Karya yang diduga ditulis antara 1028-1035 M ini (Zoetmulder, 1984) dipersembahkan untuk raja Airlangga dari kerajaan Medang Kamulan, menantu raja Dharmawangsa.

Karya sastra lain yang juga terkenal adalah kakawin Bharatayuddha, yang digubah oleh mpu Sedah dan belakangan diselesaikan oleh mpu Panuluh (Panaluh). Kakawin ini dipersembahkan bagi Prabu Jayabhaya (1135-1157 M), ditulis pada sekitar akhir masa pemerintahan raja Daha (Kediri) tersebut. Di luar itu, mpu Panuluh juga menulis kakawin Hariwangśa di masa Jayabaya, dan diperkirakan pula menggubah Gaţotkacāśraya di masa raja Kertajaya (1194-1222 M) dari Kediri.

Beberapa kakawin lain turunan Mahabharata yang juga penting untuk disebut, di antaranya adalah Kŗşņāyana (karya mpu Triguna) dan Bhomāntaka (pengarang tak dikenal) keduanya dari jaman kerajaan Kediri, dan Pārthayajña (mpu Tanakung) di akhir jaman Majapahit. Salinan naskah-naskah kuno yang tertulis dalam lembar-lembar daun lontar tersebut juga diketahui tersimpan di Bali.

Di samping itu, mahakarya sastra tersebut juga berkembang dan memberikan inspirasi bagi berbagai bentuk budaya dan seni pengungkapan, terutama di Jawa dan Bali, mulai dari seni patung dan seni ukir (relief) pada candi-candi, seni tari, seni lukis hingga seni pertunjukan seperti wayang kulit dan wayang orang. Di dalam masa yang lebih belakangan, kitab Bharatayuddha telah disalin pula oleh pujangga kraton Surakarta Yasadipura ke dalam bahasa Jawa modern pada sekitar abad ke-18.

Dalam dunia sastera popular Indonesia, cerita Mahabharata juga disajikan melalui bentuk komik yang membuat cerita ini dikenal luas di kalangan awam. Salah satu yang terkenal adalah karya dari R.A. Kosasih.

Versi-versi Mahabharata

Di India ditemukan dua versi utama Mahabharata dalam bahasa Sansekerta yang agak berbeda satu sama lain. Kedua versi ini disebut dengan istilah "Versi Utara" dan "Versi Selatan". Biasanya versi utara dianggap lebih dekat dengan versi yang tertua.

mungkin itu dulu yang bisa dishare,nanti kapan-kapan disambung lagi sambil cari-cari sumber lagi..:)

The Picture Of Life

just wanna share,the picture of life....

from many sources..








semoga berkenan,moga-moga g ada yg mempermasalahkan hak cipta,hehe..

have you ever imagine...?

Earth


Other Planets


SUN


Sun and other stars


Other Stars Again

our sun is like a dust in that pic..

"Indonesia Jangan Sampai Besar"

INDONESIA adalah bangsa besar.Tanda kebesarannya antara lain lapang
jiwanya, sangat suka mengalah, tidak lapar kemenangan dan keunggulan
atas bangsa lain, serta tidak tega melihat masyarakat lain kalah tingkat
kegembiraannya dibanding dirinya.

Dari lingkaran katulistiwa, Indonesia memiliki 12,5%, dan itu lebih dari
cukup untuk menguasai akses angkasa, satelit dan wilayah otoritas
politik maupun perekonomian informasi dan komunikasi. Kita adalah a big
boss industri teknologi informasi sedunia. Tapi kita sangat rendah hati
dan mengalah. Kita tidak tega kepada "negara kecamatan" bernama
Singapura,sehingga kekayaan kita itu kita sedekahkan kepada tetangga
kecil itu.

Keluasan teritorial dan kesuburan bumi maupun lautan,kekayaan perut
bumi,
tambang- tambang karun, keunggulan bakat manusia-manusia Indonesia,
pelajar-pelajar kelas Olimpiade, kenekatan hidup tanpa manajemen,
ideologi bonek, jumlah penduduk, kegilaan genetik dan antropologisnya,
dan berbagai macam kekayaan lain yang dimiliki oleh "penggalan sorga"
bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia-sungguh- sungguh merupakan
potensi yang tak tertandingi oleh negara dan bangsa mana pun di muka
bumi. Tetapi, sekali lagi, kita adalah bangsa yang lembut hati dan jauh
dari watak "raja tega".
Kekayaan-kekayaan itu kita persilakan dikenduri oleh industri
multinasional dan orang-orang serakah: emas rojo brono diangkuti tiap
hari ke mancanegara. Dan itu bukan kekalahan, itu adalah kebesaran jiwa.

Kita bangsa yang kaya raya karena amat sangat disayang Tuhan sehingga
kita pesta sedekah dan infak. Rakyat kebanyakan ikhlas menderita karena
memilih surga dan toleran kepada sejumlah minoritas yang memang memilih
neraka.
Itu terkadang rakyat ikut rakus sedikit-sedikit, dengan pertimbangan tak
enak atau pekewuh kalau kita dari dunia langsung masuk surga tanpa
menengok saudara-saudara kita yang di neraka. Tak baiklah itu. Apa
salahnya kita mampir juga beberapa saat di neraka, ngerumpi dengan
handai tolan di sana. Pada suatu hari, TVRI, RRI, TNI, Polri, dan
berbagai mesin rumah tangga negara kita sewakan atau jual kepada
tetangga.

Berikutnya kita bercita-cita tak usah repot-repot menghabiskan ratusan
miliar untuk pemilihan presiden. Kita bisa mengontrak tokoh manajemen
dunia untuk memimpin negeri kita. Juga menteri-menteri kita kontrak dari
luar negeri, sebagaimana para pemain sepak bola. Dan puncaknya kelak,
MPR bisa mengambil keputusan untuk bikin proposal memohon kepada
Kerajaan Belanda agar berkenan memimpin kita lagi. Bangsa kita adalah
bangsa filosof. Kalau presiden kita kontrakkan dari Belanda atau
terserah negeri maju manapun kita persilakan memimpin, itu tidak berarti
kita berada di bawah mereka. Dalam teori demokrasi, rakyat selalu
tertinggi, presiden dan kabinet hanya orang yang kita upah dan harus
taat kepada kita.

Jadi, sesungguhnya bangsa Indonesia tetap di atas. Sebagaimana seorang
Imam salat diangkat oleh makmumnya, imam pada hakikatnya harus taat
kepada makmum. Yang memilih ditaati oleh yang dipilih, apalagi yang
dipilih itu digaji. Makmum yang memilih imam, tidak ada imam memilih
makmum. Sejak 200 tahun lalu, kekuatan bangsa Indonesia membuat dunia
miris. Maka perlahan-perlahan, terdesain atau tak sengaja terdapat
semacam perjanjian tak tertulis di kalangan kepemimpinan dunia di
berbagai bidang: jangan sampai Indonesia menjadi bangsa yang besar,
jangan sampai Indonesia menjadi negara yang maju.

Sebab potensi alam dan manusia tak bisa dilawan oleh siapa pun. Kalau
diberi peluang, masyarakat setan dan iblis pun kalah unggul dibanding
umat manusia Indonesia. Sedangkan orang Indonesia hidup iseng dan
sambilan saja dalam melakukan apa pun: setan-setan sudah semakin
terpinggirkan dan kehilangan pekerjaan. Kita pun sangat suportif kepada
kehendak dunia untuk mengerdilkan bangsa kita. Kita membantu sepenuh
hati upaya-upaya untuk mengerdilkan diri kita sendiri.

Sehari-hari, dalam pergaulan maupun dalam urusan-urusan konstelatif
tuktural, kita sangat rajin menghancurkan siapa pun yang menunjukkan
perilaku menuju kemungkinan mencapai kebesaran dan kemajuan bangsa
Indonesia.

Setiap orang unggul tak kita akui keunggulannya. Setiap orang hebat kita
cari buruknya. Setiap orang berbakat kita kipasi agar bekerja di luar
negeri. Setiap orang baik tak akan pernah kita percaya. Setiap orang
tulus kita siksa dengan kecurigaan. Setiap orang ikhlas kita santai
dengan fitnah.Setiap akan muncul pemimpin sejati, harus sesegera mungkin
kita bikin ranjau untuk menjebak dan menghancurkannya. Kita benar-benar
sudah hampir lulus menjadi bangsa yang besar. Dan puncak kebesaran kita
adalah kesediaan kita untuk menjadi kerdil.

EMHA AINUN NADJIB* *) Budayawan

Iseng-iseng

tulisan ini saya dapatkan dari sebuah forum.memang pertanyaanya agak jadul sih dan uda pernah,cman saya rasa cukup menarik buat iseng-iseng aja,hehe..



Dengan menjawab soal-soal di bawah ini akan terbukti bahwa berpikir
pendek sering mengecoh kita

Di bawah ini ada empat (4) pertanyaan dan satu bonus.

Jawablah semua tanpa banyak pikir.
Cuma boleh berpikir sedetik, jawab segera. OK?

Ayo cari tahu, seberapa pintar anda... .

Siap? GO!!! (gulung layar)

Pertanyaan pertama:

Anda ikut berlomba. Anda menyalip orang di posisi nomor dua.
Sekarang posisi anda nomor berapa?

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~

Jawaban:

Jika anda menjawab Nomor Satu, anda SALAH BESAR!

Jika anda menyalip orang nomor dua, sekarang andalah yang
ada di posisi nomor dua!

Jangan ngaco lagi, ya?

Sekarang jawab pertanyaan kedua, tapi jangan berpikir lebih banyak
daripada ketika menjawab pertanyaan pertama tadi, OK ?

Pertanyaan Kedua:

Jika anda menyalip orang di posisi terakhir, sekarang
anda di posisi??

(gulung layar)

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~

Jawaban:

Jika anda menjawab anda orang kedua dari terakhir, anda SALAH LAGI!!?

Coba, bagaimana caranya menyalip orang TERAKHIR?

Anda sebetulnya tidak terlalu pintar, 'kan ?

Pertanyaan ketiga:

Hitung-hitungan yang pelik! Catatan: kerjakan di pikiran anda saja.

JANGAN gunakan kertas atau pensil atau kalkulator.

Cobalah.

Ambil 1000 dan tambahkan 40 padanya.
Sekarang tambahkan 1000 lagi.
Sekarang tambahkan 30.
Tambahkan 1000 lagi.
Sekarang tambahkan 20.
Sekarang tambahkan 1000.
Sekarang tambahkan 10.
Berapa totalnya?

gulung layar.....

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~

Apakah hasilnya 5000?

Jawaban yang benar adalah 4100.

Kalau tidak percaya, cek dengan kalkulator!

Hari apes, 'kan?

Mungkin di pertanyaan terakhir anda bisa benar...
....Mungkin! !!

Pertanyaan keempat:

Ayah Mary punya lima anak:
1. Nana, 2. Nene, 3. Nini, 4. Nono

Siapa nama anak kelima?

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~

Apa anda menjawab Nunu?

BUKAN! Tentu saja bukan.

Anak kelima namanya Mary.

Baca lagi pertanyaannya!

Okay, sekarang ronde bonus:

SEORANG bisu pergi ke toko dan ingin membeli sikat gigi.

Dengan menirukan orang menggosok gigi, ia berhasil menyampaikan
keinginannya pada penjaga toko dan ia berhasil membeli sikat gigi...

Berikutnya, seorang buta masuk ke toko itu dan ingin
membeli kacamata hitam,
bagaimana DIA menunjukkan keinginannya?

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~

Langsung aja ngomong, dia kan gak bisu...



hehe..menarik aja sih,thx buat yang bkin gnian...maaf kalo repostand ga suka..

Lifescapes

random thoughts and passion of my life

About Me

My Photo
bhagas
sleep deprived person
View my complete profile

Blog Archive